Tinggalkan komentar

WHEN NATURE CALLING…

Judul di atas sangat tepat untuk menggambarkan perjalanan kami saat ini. Di tengah-tengah liburan pemetaan angkatan 2008 kebanyakan besar anak-anak geologi yang lain menggunakan waktunya ini untuk pulang ke kampung halamannya masing-masing. Namun kami memilih meninggalkan rutinitas kota sejenak untuk menikmati indahnya alam semesta. Ya, Gunung Merbabu menjadi pilihan kami untuk  mengisi liburan kali ini serta panggilan alam ini. Kami sendiri merencanakan perjalanan ini sangat mendadak yaitu 1 hari sebelum keberangkatan kami, namun justru kebanyakan perjalanan malah terlaksana ketika direncanakan secara mendadak. Tim perjalanan kali ini terdiri dari saya sendiri Anggiat Panangian, Andre, Reza Permadi, Rahman Hakim, Nikko Maesa.

Kamis, 5 Mei 2011

Setelah kuliah fisika dasar kami pun segera membeli logistik di pasar swalayan ADDA saat siang-siang. Walaupun kami terbilang sibuk untuk menyelesaikan belanjaan logistik dan packing barang, kami masih menyempatkan diri untuk menyelesaikan urusan akademis yaitu asistensi laporan mineral dalam batuan. Setelah fix packing logistik dan lain-lainnya kami pun segera berangkat. Kami pun memilih motor untuk transportasi ke Basecamp Merbabu di Cuntel, Kopeng.

Jumat, 6 Mei 2011

Setelah melakukan perjalanan selama 3 jam kami pun sampai di basecamp Merbabu. Kami pun menggunakan waktu ini untuk beristirahat untuk melakukan perjalanan nanti paginya. Paginya kami memulai perjalanan jam 9 pagi setelah selesai sarapan dan yang paling penting adalah pemanasan. Tidak ada yang masalah ketika jalan dari pos bayangan 1 ke pos bayangan 2. Namun kami mulai kelelahan ketika sudah mencapai pos 2. Tanjakan-tanjakan yang bertubi-tubi membuat nafas kami menjadi tersengal-sengal. Berbeda dengan Iman, walaupun membawa beban yang sangat berat (tenda dan logistik) nafasnya masih terjaga. Memang beda kalo orang kuat. Masalah mulai terjadi ketika kami berada di pos 3. Hujan deras di pos 3 membuat perjalanan kami sempat terhenti. Memang perjalanan pos 3 ke pos pemancar merupakan jarak terjauh dengan medan yang nge-track. Perjalanan yang seharusnya hanya 1 jam menjadi 3 jam karena perjalanan dihajar hujan dan badai yang terus-menerus. Hal ini mengakibatkan fisik dan mental kami menjadi agak drop. Apalagi kabut tebal menutup jarak pandang kami. Ditambah dengan jalur yang kami jalani menjadi seperti parit karena air hujan yang sangat deras. Namun ketika kabut terbuka dan saya melihat pemancar yang menjulang tinggi, maka mental dan fisik tim menjadi naik lagi dan segera menambah kecepatan. Sesampainya di pos pemancar, kami segera masuk ke bangunan  yang ada di situ. Tim juga merasakan kedinginan karena kehujanan dan terkena angin badai yang bertubi-tubi. Untung saja tidak ada yang terkena hipotermia. Setelah hujan reda kami pun membangun tenda di pos pemancar dan beristirahat untuk perjalanan esoknya ke puncak.

Sabtu, 7 Mei 2011

Kami berangkat jam setengah 12 dari pos pemancar. Jalur dari pos pemancar ke Puncak Merbabu paling tinggi (3142 m) memang lumayan ekstrem. Setelah melewati rintangan-rintangan, akhirnya kami menginjakkan kaki kami di puncak Merbabu, Puncak Kenteng Songo dengan keadaan angin yang sangat kencang dan kabut yang sangat tebal. Karena kedinginan kami pun memutuskan agar segera turun ke pos pemancar di mana tenda kami berada.

Minggu, 8 Mei 2011

Kami beristirahat sampai jam 3 pagi. Dan jam 5 paginya kami turun karena salah satu teman kami akan mengikuti lomba seleksi  band. Setelah menikmati sunrise di pos pemancar kami pun turun dan kembali ke Basecamp Cuntel dan pulaaaaang ke Semarang. (APS)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: