Tinggalkan komentar

Mahameru, Puncak Abadi Para Dewa

Judul di atas merupakan sepenggal potongan lagu DEWA 19 yang berjudul Mahameru yang mewakili “panggilan alam” kali ini. Ya, liburan semester 2 lalu, kami berjumlah 16 orang melakukan perjalanan ke Gunung Semeru yang merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa dengan ketinggian 3676 mdpl. Dari 16 personil yang ikut, 14 merupakan anak geologi sedangkan 2 personil lainnya merupakan anak planologi dan industri. Personil yang ikut antara lain adalah saya (Anggiat), Reper, Ari, Kibar, Andre, Drogba, Bayu, Togi, Billy, Helmi Nugroho, Kukuh, Bakor, Udin, Rifky, Daniel, dan Belan.

Hari pertama, tanggal 12 Juli 2011, perjalanan kami mulai dari kota Semarang lebih tepatnya dari Stasiun Poncol untuk menuju Kota Malang. Kami memilih kereta Matarmaja sebagai transportasi menuju kota Malang. Walaupun tidak mendapat tempat duduk dan harus duduk di bawah kami tetap membulatkan tekad kami menuju kota Malang karena harganya yang termasuk murah.

Hari kedua, tanggal 13 Juli 2011, akhirnya setelah bertempur bersama pedagang dan penumpang lainnya di Matarmaja selama kurang lebih 10 jam kami sampai juga di Stasiun Kota Baru Malang paginya. Kami pun bergegas mencarter angkot untuk menuju rumah Sendiant Angga Darmawan atau biasa disapa Sendok. Kami pun segera melengkapi logistik dan peralatan lainnya serta packing.

Hari ketiga, tanggal 14 Juli 2011, jam 3.30 pagi kami sudah terbangun dari tidur untuk bersiap-siap. Jam 4.30 pagi pun kami capcus dari rumah Sendok menuju Ranu Pane menggunakan truk dari Sendok bersama 4 arek-arek Malang yang merupakan kawan dari Sendok yang ikut naik. Jam 7 kami pun sampai di Pos Ranu Pane.

Setelah melakukan pemanasan dan pos pendakiannya buka, akhirnya kami pun memulai perjalanan ini. Track dari Ranu Pane menuju Ranu Kumbolo termasuk tidak berat karena jalannya kebanyakan  mendatar. Setelah menempuh waktu kurang lebih 5 jam dan jarak sejauh 9,5 km, akhirnya kami sampai juga di danaunya para petualang, Ranu Kumbolo. Ranu Kumbolo merupakan danau yang sangat luas dan juga kami pun segera mendirikan 4 tenda dan memasak makanan untuk makan siang. Menu untuk makan kali ini adalah tempe dan tahu. Suhu di Ranu Kumbolo cukup dingin karena merupakan suatu lembahan yang terbuka. Pada jam 3 pagi suhunya dapat mencapai 5 °C. Setelah makan malam dengan menu sayur sup, jamur oseng-oseng, dan telur rendang, kami pun beristirahat untuk perjalanan esok hari.

Hari keempat, tanggal 15 Juli 2011, jam 5.30 pagi saya sudah terbangun dan segera memulai acara masak-memasak ala Master Chef dengan menu sayur sup dan sosis goreng mayonaise. Setelah kenyang dan packing kami pun memulai perjalanan menuju Kalimati sementara Sendok bersama arek-arek Malang stay di Ranu Kumbolo. Pertama-tama kami harus menghadapi tanjakan cinta yang lerengnya sangat miring yaitu sekitar 45 derajat. Setelah melewati tanjakan cinta, pemandangan indah pun disuguhi oleh Oro-Oro Ombo yang merupakan padang sabana yang sangat dahsyat indahnya. Sayangnya keindahan Ranu Kumbolo dan Oro-Oro Ombo berkurang karena ulah para pendaki yang tidak bertanggung jawab saat membuat api unggun, Ranu Kumbolo dan Oro-Oro Ombo terbakar dan vegetasinya menjadi berwarna hitam. Selepas Oro-oro Ombo kami pun melewati hutan Cemoro Kandang yang memang agak angker karena di sini kami dapat pengalaman mistis dan mungkin tidak bisa diceritakan di sini.

Selepas Cemoro Kandang kami pun sampai di Jambangan di mana Mahameru sudah bisa terlihat berdiri gagah dengan lereng yang benar-benar dahsyat terjalnya. Saya pun berdoa agar dapat berdiri di pucuk genteng Jawa esok harinya. Setelah berjalan kurang lebih 3,5 jam dan menempuh jarak 4,9 km, kami pun sampai di Kalimati dan segera memasang tenda, mengambil air, dan memasak. Untuk menu kali ini saya sengaja menggoreng ayam sebanyak 3 kg dan nasi yang banyak agar energi yang terkumpul cukup banyak karena perjalanan ke Mahameru sangat berat dan membutuhkan energi yang besar serta mental yang kuat. Jam 9 malam pun kami tidur untuk menyiapkan diri untuk summit attack jam 12 malam nanti.

Hari kelima, tanggal 16 Juli 2011, jam 00.00 kami berenam belas pun siap summit attack dengan membawa 17 botol 1,5 liter dan ransum coklat silverqueen 25 batang. Dengan jaket windbreaker atau polar, 5 daypack, celana panjang serta headlamp di kepala,  kami pun dengan mantap melangkahkan kaki menuju puncak abadi para dewa. Track dari Kalimati menuju Arcopodo kami tempuh dalam waktu 1 jam dengan track yang menanjak tiada henti dan nafas mulai tersengal-sengal. Beristirahat kurang lebih 20 menit di Arcopodo kami pun melanjutkan perjalanan kembali.

Beberapa saat kemudian kami memasuki vegetasi pasir dimana debunya sangat menyiksa dan menusuk ke pernafasan, apalagi di saat itu ada pendakian massal berjumlah 80 orang lebih di mana kami harus mengantre juga untuk naik karena track vegetasi pasir ini cukup rawan kecelakaan karena sangat curam. Di sini lah mental kami sangat diuji. Dengan nafas yang sudah tersengal-sengal kami tetap semangat. Sepatu yang terendam dalam pasir karena vegetasinya yang pasir dan rumus naik tiga langkah turun dua langkah harus kami nikmati. Tangan pun mulai membantu kaki untuk berjalan agar terus tetap naik.

Menjelang matahari terbit kok nggak sampe-sampe pikir saya. Tadinya sempat saya berpikir untuk mengerahkan rombongan untuk kembali turun karena takut gas beracun akan muncul. Akhirnya setelah melintas bukit, berjalan letih menahan berat beban, bertahan di dalam dingin dan mencumbui pasir-pasir Mahameru kami sampai juga di genteng pulau Jawa, puncak tertinggi di Pulau Jawa tepat pukul 7 pagi. Wow, jarak 2 km memakan waktu selama 7 jam!

Setelah puas berfoto-foto dan membuat video di puncak, jam 8 pagi kami turun ke Kalimati. Perjalanan turun ini hanya memakan waktu 2 jam, padahal untuk naik kami butuh waktu 7 jam. Di Kalimati semua langsung tidur karena lelahnya luar biasa. Setelah istirahat, kami pun segera turun ke Ranu Kumbolo untuk ngecamp semalam lagi.

Hari keenam, tanggal 17 Juli 2011, di Ranu Kumbolo kami pun memasak besar-besaran. Menu kali ini adalah spagheti yang rasanya benar-benar maknyus. Setelah kenyang dan packing kami pun turun ke Ranu Pane dan pulang ke kediaman Sendok. Sampai jumpa Mahameru, terima kasih atas semuanya! (APS).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: